Ketika
masih SD, setiap kali ditanya oleh Guru atau orang-orang sekitar “Apa
cita-citamu?”, saya selalu menjawab
kalau saya ingin menjadi Dokter. Waktu itu yang saya tahu tentang profesi seorang
dokter hanyalah mengobati orang sakit dan selalu mengenakan pakaian berwarna
putih. Saya tidak tahu apa yang akan dipelajari jika saya mengambil jurusan
kedokteran, apakah menjadi dokter itu sulit atau tidak, bahkan saya hanya tahu profesi dokter itu hanya satu, maksudnya saya
tidak tahu bahwa dokter itu ada spesialisasinya, seperti dokter umum, dokter
gigi, bidan dan sebagainya. Lalu, kenapa
saya ingin menjadi dokter sedangkan pengetahuan saya saat itu sangat minim
mengenai dokter? Selain faktor bahwa menjadi dokter adalah jawaban yang cenderung
banyak dilontarkan oleh anak-anak seusia saya pada saat itu, faktor keluarga,
terutama orangtua mungkin juga menjadi alasannya. Orang tua saya, terutama
Ayah, sangat ingin saya kelak menjadi
seorang dokter, meskipun beliau tidak akan memaksa saya jikalau saya tidak mau.
Melihat kesuksesan saudara dan keponakan-keponakannya yang menjadi dokter, Ayah
saya juga menginginkan anaknya menjadi dokter. Mungkin itulah yang membuat saya
selalu menjawab ingin menjadi dokter jika ditanya soal cita-cita.
Semakin
beranjak dewasa, keinginan saya untuk menjadi dokter semakin menghilang.
Ditambah lagi dengan melihat nilai-nilai hasil ujian saya, di mana nilai mata
pelajaran IPS selalu lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai-nilai mata pelajaran IPA. Katanya kan, kalau mau jadi
dokter harus pintar IPA. Belum lagi nilai matematika yang selalu pas-pasan.
Sampai
kepada saat di mana saya mengikuti suatu tes pengukuran inteligensi, bakat dan minat
yang saya lakukan secara pribadi dengan seorang Psikolog ketika awal-awal saya
baru masuk SMA, saya mulai berminat untuk menjadi seorang Psikolog.
Singkat cerita, akhirnya setelah lulus SMA saya lulus di jurusan Psikologi UIN Suska Riau. Ketika mendengar kabar bahagia itu, Ibu saya berkata kepada saya bahwa mungkin saja saya tidak menjadi dokter seperti yang Ayah saya inginkan, tetapi inilah jalan lain yang ditentukan oleh Allah kepada saya. Beliau mengatakan “Walaupun tidak seperti dokter yang dibayangkan oleh Ayahmu, tetapi Psikolog kan dokter juga. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa Ayahmu.”
Singkat cerita, akhirnya setelah lulus SMA saya lulus di jurusan Psikologi UIN Suska Riau. Ketika mendengar kabar bahagia itu, Ibu saya berkata kepada saya bahwa mungkin saja saya tidak menjadi dokter seperti yang Ayah saya inginkan, tetapi inilah jalan lain yang ditentukan oleh Allah kepada saya. Beliau mengatakan “Walaupun tidak seperti dokter yang dibayangkan oleh Ayahmu, tetapi Psikolog kan dokter juga. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa Ayahmu.”
Saya
cukup senang bisa lulus di sana walaupun sebenarnya tidak yakin dengan
Universitasnya yang ber-title-kan Islam, karena saya sendiri bukanlah orang
yang cukup agamis. Akan tetapi saya mencoba menjalaninya dan mengikuti segenap
peraturan yang berlaku di sana. Hingga saya menemukan bahwa selama ini meskipun
bukan termasuk orang yang suka berbuat maksiat, tetapi saya juga tidak terlalu
peduli dengan agama. Saya menyadari bahwa selama ini saya telah jauh dari
agama. Belajar di kampus yang kental dengan nilai-nilai Islaminya, saya pun
mulai peduli dengan agama yang saya anut dan mulai melaksanakan kewajiban yang
seharusnya saya lakukan. Walaupun sudah pasti belum sempurna, tetapi sampai
saat ini saya masih belajar mendekati hal itu.
Saya
menyadari bahwa ilmu pengetahuan memang hal yang penting, tetapi ilmu agama
juga sangat penting karena ilmunya kekal abadi sampai kelak kita di akhirat dan
keduanya saling melengkapi untuk kehidupan yang lebih baik. Seperti yang
dikatakan oleh Albert Einstein: “Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama
adalah lumpuh.” Keduanya memang saling melengkapi. Oleh karena itu, saya
menuntut ilmu di dunia ini juga ingin dibarengi dengan agama, karena menurut
saya orang yang hebat adalah bukan orang yang hanya jenius dalam ilmu pengetahuan
saja, tetapi juga orang yang jenius dalam hal agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar