Senin, 21 April 2014

Essay: Sekilas Tentang Perjalanan Hidup



Ketika masih SD, setiap kali ditanya oleh Guru atau orang-orang sekitar “Apa cita-citamu?”,  saya selalu menjawab kalau saya ingin menjadi Dokter. Waktu itu yang saya tahu tentang profesi seorang dokter hanyalah mengobati orang sakit dan selalu mengenakan pakaian berwarna putih. Saya tidak tahu apa yang akan dipelajari jika saya mengambil jurusan kedokteran, apakah menjadi dokter itu sulit atau tidak, bahkan saya hanya tahu  profesi dokter itu hanya satu, maksudnya saya tidak tahu bahwa dokter itu ada spesialisasinya, seperti dokter umum, dokter gigi, bidan dan sebagainya.  Lalu, kenapa saya ingin menjadi dokter sedangkan pengetahuan saya saat itu sangat minim mengenai dokter? Selain faktor bahwa menjadi dokter adalah jawaban yang cenderung banyak dilontarkan oleh anak-anak seusia saya pada saat itu, faktor keluarga, terutama orangtua mungkin juga menjadi alasannya. Orang tua saya, terutama Ayah,  sangat ingin saya kelak menjadi seorang dokter, meskipun beliau tidak akan memaksa saya jikalau saya tidak mau. Melihat kesuksesan saudara dan keponakan-keponakannya yang menjadi dokter, Ayah saya juga menginginkan anaknya menjadi dokter. Mungkin itulah yang membuat saya selalu menjawab ingin menjadi dokter jika ditanya soal cita-cita.
Semakin beranjak dewasa, keinginan saya untuk menjadi dokter semakin menghilang. Ditambah lagi dengan melihat nilai-nilai hasil ujian saya, di mana nilai mata pelajaran IPS  selalu lebih tinggi dibandingkan dengan nilai-nilai mata pelajaran IPA. Katanya kan, kalau mau jadi dokter harus pintar IPA. Belum lagi nilai matematika yang selalu pas-pasan.
Sampai kepada saat di mana saya mengikuti suatu tes pengukuran inteligensi, bakat dan minat yang saya lakukan secara pribadi dengan seorang Psikolog ketika awal-awal saya baru masuk SMA, saya mulai berminat untuk menjadi seorang Psikolog.
Singkat cerita, akhirnya setelah lulus SMA saya lulus di jurusan Psikologi UIN Suska Riau. Ketika mendengar kabar bahagia itu, Ibu saya berkata kepada saya bahwa mungkin saja saya tidak menjadi dokter seperti yang Ayah saya inginkan, tetapi inilah jalan lain yang ditentukan oleh Allah kepada saya. Beliau mengatakan “Walaupun tidak seperti dokter yang dibayangkan oleh Ayahmu, tetapi Psikolog kan dokter juga. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa Ayahmu.”
Saya cukup senang bisa lulus di sana walaupun sebenarnya tidak yakin dengan Universitasnya yang ber-title-kan Islam, karena saya sendiri bukanlah orang yang cukup agamis. Akan tetapi saya mencoba menjalaninya dan mengikuti segenap peraturan yang berlaku di sana. Hingga saya menemukan bahwa selama ini meskipun bukan termasuk orang yang suka berbuat maksiat, tetapi saya juga tidak terlalu peduli dengan agama. Saya menyadari bahwa selama ini saya telah jauh dari agama. Belajar di kampus yang kental dengan nilai-nilai Islaminya, saya pun mulai peduli dengan agama yang saya anut dan mulai melaksanakan kewajiban yang seharusnya saya lakukan. Walaupun sudah pasti belum sempurna, tetapi sampai saat ini saya masih belajar mendekati hal itu.
Saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan memang hal yang penting, tetapi ilmu agama juga sangat penting karena ilmunya kekal abadi sampai kelak kita di akhirat dan keduanya saling melengkapi untuk kehidupan yang lebih baik. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein: “Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.” Keduanya memang saling melengkapi. Oleh karena itu, saya menuntut ilmu di dunia ini juga ingin dibarengi dengan agama, karena menurut saya orang yang hebat adalah bukan orang yang hanya jenius dalam ilmu pengetahuan saja, tetapi juga orang yang jenius dalam hal agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar