Lyra
melirik jam tangan miliknya untuk yang ke sekian kalinya. “Sepuluh menit lagi.”
gumamnya, lalu menghembuskan nafas panjang. Siang ini kelas XII IPA 3 sedang
berlangsung proses belajar mengajar mata pelajaran kimia. Lyra tidak habis
pikir, mengapa pelajaran sejenis kimia ini harus ditempatkan pada jam terakhir.
Belajar kimia itu butuh konsentrasi tingkat tinggi, semangat yang
berkobar-kobar dan mata yang segar bugar sampai lalat yang melintas di depannya
pun tidak akan membuatnya berkedip barang sedikitpun. Oke, agak sedikit
berlebihan memang. Tetapi begitulah
kondisi yang harus dialami oleh seluruh tubuh dan panca indra jika benar-benar
ingin sukses dalam belajar kimia. Sedangkan pada jam siang seperti ini, jam
terakhir pula, kondisi itu tidak akan pernah bisa ditemukan pada seluruh siswa
SMA yang normal. Dan karena Lyra termasuk anak SMA yang normal, maka gadis
berambut panjang sebahu itu juga tidak tampak bersemangat lagi dalam mengikuti
pelajaran. Ditambah lagi pelajaran kimia bukanlah mata pelajaran yang dia
gemari, maka lengkaplah sudah penderitaan Lyra pada siang hari ini. Lyra
menatap Anna yang duduk di sebelah kirinya, ternyata teman sebangkunya itu
tampak lebih parah lagi. Wajahnya kusam
dan tampak berminyak karena terkena paparan sinar matahari siang yang masuk
dari jendela kelas. Matanya sayu tampak
tidak berminat memperhatikan Bu
Reni yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas dan hampir setiap detik
mata yang dibingkai oleh kacamata itu berkedip-kedip. Jelas sekali anak itu
sedang menahan kantuk yang teramat sangat berat. Lyra menyenggol Anna dengan
sikunya, sontak gadis pecinta komik itu kaget dan matanya langsung membelalak
lebar. Hal tersebut membuat Lyra tertawa geli, tapi tetap dengan volume suara yang
sangat kecil bahkan nyaris tak terdengar. Anna membetulkan letak kacamatanya
lalu menatap garang ke arah Lyra seolah-olah berkata “Tunggu pembalasanku!”,
yang malah membuat Lyra semakin menjadi-jadi menahan tawanya karena geli
melihat ekspresi wajah Anna yang menurutnya lucu. Setidaknya kejadian itu dapat
sedikit membunuh rasa jenuh di antara keduanya dalam menunggu kelas ini
berakhir. Dan tak lama setelah itu, bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi
dibarengi sorakan riang siswa-siswa normal yang sudah tidak sabar ingin segera
pulang ke rumah mereka masing-masing, tak terkecuali Lyra dan Anna.
***
Siang
ini Lyra pulang sekolah dengan perasaan campur aduk antara senang, tidak sabar,
deg-degan dan penasaran. Dua hari yang lalu dia mendapat kabar dari sahabat
laki-lakinya yang sekolah di Jepang sedang libur sekolah musim panas dan akan
pulang ke Indonesia. Sebenarnya tidak bisa dibilang pulang juga sih, karena
sejatinya sahabat yang sudah dekat dengannya sejak mereka sama-sama belum masuk
sekolah itu memang asli keturunan orang Jepang dan lahir di negara matahari
terbit itu. Ketika berusia empat tahun, dia dibawa oleh Ibunya yang asli orang
Indonesia untuk pergi ke Jakarta karena pada waktu itu Nenek dari Ibunya
meminta anak dan cucunya untuk tinggal bersamanya karena beliau baru saja
menjadi janda dan tidak ada lagi yang menemainya tinggal di rumah yang cukup
besar itu. Tadinya sang Ayah juga ikut tinggal di Jakarta selama beberapa
bulan, tetapi karena sangat sulit bagi si Ayah untuk beradaptasi dengan
lingkungan Indonesia dan panggilan pekerjaan yang mengharuskannya kembali ke
Jepang, akhirnya Ayah satu anak itu pulang ke Jepang dan setiap sebulan sekali
pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan istri dan anak laki-lakinya.
Dengan
gesit Lyra menerobos kerumunan penumpang yang kebanyakan anak sekolah yang sejak
tadi sama-sama sudah menunggu kedatangan bus yang akan mereka tumpangi. Kali
ini dia bertekad tidak akan kehabisan kebagian tempat duduk lagi. Dan tekadnya itu
membuahkan hasil, akhirnya dia mendapat tempat duduk nomor dua dari belakang di
samping jendela. Berbeda sekali dengan keadaannya waktu pelajaran kimia di
sekolah tadi, sekarang semangat Lyra sedang berkobar-kobar hingga membuatnya
senyum-senyum dan cengengesan sendiri. Kelakuan aneh Lyra tersebut disadari
oleh penumpang yang duduk di kursi sebelah Lyra yang dari penampilan sepertinya
anak kuliahan.
“Kenapa,
Dek?”
“Eh!
Oh, nggak kenapa-napa kok, Mas.” Lyra baru sadar kalau disebelahnya ada orang.
Dia jadi malu sendiri.
“Ooh,
kirain ada apa. Soalnya adek tadi senyum-senyum sama saya, kirain kita saling
kenal.”
“Nggak
kok, Mas. Saya tadi nggak senyum-senyum.” jawab Lyra sekenanya. Padahal jelas
sekali kalau tadi dia senyum-senyum. Lagian si mas-masnya juga ge-er banget
dikira orang senyum-senyum sama dia. Lyra sama sekali tidak berminat untuk
berkenalan dengan orang di sebelahnya walaupun mas-mas itu tampaknya ingin
mengajak Lyra untuk kenalan dan mengobrol. Tetapi Lyra langsung mengalihkan
pandangannya ke luar jendela sehingga laki-laki tersebut mengurungkan niatnya.
Bus
mulai bergerak menyusuri jalanan ibu kota yang disesaki oleh
kendaraan-kendaraan bermotor. Sementara itu, di tempat duduknya, ingatan Lyra
kembali pada kenangan masa kecilnya dulu saat dia dan Ken masih bertetangga.
“Aku
Lyra. Kamu?” ujar Lyra yang berusia lima tahun kepada anak laki-laki seusianya
yang sedang memegang benda yang tampak seperti mainan . Anak laki-laki itu
menatap bingung ke arah Lyra. Pandangannya bolak-balik antara wajah dan tangan
yang sedang dijulurkan Lyra kepadanya. Dia agak ragu untuk membalas juluran
tangan gadis kecil di depannya itu karena melihat kondisinya yang membuatnya
geli. Betapa tidak, tangan Lyra tampak kotor dengan cairan warna-warni yang
mulai mengering dari cat air yang baru saja digunakannya untuk melukis. Belum
lagi bajunya yang basah dengan bercak coklat yang mendominasi hampir di setiap
sisi yang menambah kesan “gembel” pada dirinya.
Setelah
menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya anak laki-laki itu memutuskan untuk
menjabat tangan gadis di depannya yang tampak tidak goyah sedikitpun menunggu
uluran tangannya.
“Saya
Ken.” ujarnya sambil menjabat tangan gadis di depannya lalu melepaskannya satu
detik kemudian dan segera mengelap tangannya ke baju.
Begitulah
awal pertemanan mereka. Sejak itu hampir setiap hari Lyra main ke rumah Ken.
Pembawaan Lyra yang ceria dan nggak bisa diam sebenarnya agak kontras dengan
Ken yang agak pendiam dan memiliki pembawaan yang tenang. Tetapi Lyra tidak
pernah bosan mengajak Ken bermain meskipun sering dia tidak mendapat respon
apa-apa alias dicuekin oleh Ken. Sampai akhirnya ketika mereka masuk di sekolah
dasar yang sama, Lyra baru menyadari bahwa sikap tidak menanggapi yang
dilakukan Ken kepadanya bukan karena Ken tidak suka kepada dirinya, melainkan
karena terkadang Ken tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Lyra. Maklum
saja, Ken adalah anak pindahan dari Jepang, sehingga butuh waktu untuk
membiasakan diri untuk mengerti bahasa Indonesia sepenuhnya. Setelah masuk SD,
Ken jadi lebih banyak berbicara dan tidak sependiam dulu, walaupun sikapnya
masih tetap tenang. Mungkin itu memang sudah pembawaannya.
Pada
suatu sore yang cerah, seperti biasa Lyra pergi ke rumah Ken untuk mengerjakan
PR bersama-sama. Saat itu mereka sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Dan seperti
biasanya juga setiap kali Lyra datang ke rumah Ken, dia selalu disambut hangat
oleh Nenek dan Ibu Ken. Mereka sudah mengenal Lyra dengan baik dan tidak pernah
keberatan jika Lyra sering-sering main ke rumah mereka. Bahkan mereka merasa
senang, karena kedatangan Lyra membuat suasana rumah menjadi lebih ramai dan
ceria.
“Ken
ada di halaman belakang, Ra. Susul aja ke sana. Nanti Nenek bawain cemilan.”
kata Nenek saat Lyra menanyakan di mana keberadaan Ken.
“Huaah.
Oke, Nek. Cemilannya dikeluarin semua ya, Nek, biar dihabisin. Nanti kalau
disimpan-simpan takutnya basi. Hihi.” ujar Lyra seenaknya seperti biasa yang
kemudian disambut oleh tawa Nenek dan Ibu Ken.
Setelah
itu Lyra pergi ke halaman belakang rumah, mencari sosok anak laki-laki bermata
sipit dan berkulit putih yang sudah sangat dikenalnya.
“Ah,
di sana rupanya dia.” gumam Lyra saat mendapati sosok yang dicarinya sedang
berbaring di pondok kayu kecil yang ada di halaman belakang rumah.
“Kok
malah tidur, sih? Katanya mau bikin PR. Lagian pamali tau, magrib-magrib gini
tidur.” ujar Lyra sambil mengambil posisi tiduran di samping Ken.
“Nggak
tidur kok. Cuma tiduran.”
“Yee,
sama aja.”
“Ya
nggak sama lah.”
“Sama
aja!”
“Enggak!”
“Sama!”
“Urusai! (Berisik!)”
“Hah?”
Akhirnya
magrib itu mereka habiskan waktu selama hampir satu jam dengan berbaring di
pondok.
“Aku pengen ke
sana.” kata Ken sambil menunjuk ke arah langit.
“Ke bintang?”
tanya Lyra heran. “Emangnya bisa?”
“Bukan ke
bintang. Itu terlalu jauh. Aku pengen ke luar angkasa, ke luar bumi.”
“Kalau gitu aku
ikut!” teriak Lyra antusias. Sepertinya sekarang mereka benar-benar lupa dengan
PR mereka.
“Mana bisa! Kamu
kan pengen jadi pelukis. Kalau jadi pelukis nggak bisa ke luar angkasa.”
“Lho, terus kamu
jadi apa supaya bisa ke luar angkasa?”
“Aku mau jadi
astronot.”
Diam
sejenak. Lyra tampak sedang memikirkan sesuatu. “Kalau gitu aku juga jadi
astronot deh.” ujarnya kemudian.
“Terus jadi
pelukisnya?”
“Yaa, jadi
pelukis juga, jadi astronot juga. Hehe.”
“Mana bisa! Kamu
harus pilih salah satu.”
“Yaah, tapi kan
aku juga pengen jadi astronot. Biar bisa melukis bumi dari luar angkasa.”
Hening
lagi. Kali ini Ken yang tampak memikirkan sesuatu. “Oke, kalau gitu kamu boleh
jadi astronot sekaligus pelukis.” katanya kemudian. “Tapi kamu harus belajar
yang sungguh-sungguh, nggak boleh malas-malasan. Apalagi malas ke sekolah.”
“Iya, aku nggak
akan malas-malasan.”
“Nggak boleh
telat datang sekolah juga.”
“Iya.”
“Nggak boleh
jahilin teman.”
“Oke!”
“Harus nurut
sama Guru.”
“Siap!”
“Oke, bagus.”
“Hmm, kalau
ngerjain PR, harus nggak?” tanya Lyra.
“Iya, itu juga
harus.”
“Kalau gitu,
kita kerjain yuk PRnya?”
“Eh, PR apa? Ah!
Iya, kan kita mau ngerjain PR. Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?!”
***
Kepala
Lyra terhantuk ke jendela bus saat bus itu berhenti mendadak di sebuah halte.
Seketika itu juga lamunannya buyar. Dilihatnya lelaki yang duduk di sebelahnya
tadi turun di halte tempat bus ini berhenti sekarang. Lyra turun di halte
berikutnya. Bus kembali berjalan dan rasa tidak sabar itu muncul kembali. Lyra
benar-benar tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Ken. Sudah hampir tiga
tahun mereka tidak bertemu semenjak Ken dan Ibunya memutuskan untuk kembali ke
Jepang setelah Neneknya meninggal dunia. Dan sekarang sahabat lamanya itu
sedang berlibur ke Indonesia untuk bertemu dengannya. Lyra penasaran bagaimana
rupa Ken sekarang. Lyra tidak sabar ingin bercerita lagi dengannya. Terutama
bercerita tentang cita-cita yang pernah mereka impikan dulu. Bayangan tentang
sosok Ken waktu kecilpun terlintas lagi di pikiran Lyra dan membuatnya
senyum-senyum sendiri lagi. Dalam benaknya Lyra berharap semoga kali ini mereka
serius dalam membicarakan tentang cita-cita mereka. Dan semoga Ken masih
bercita-cita yang sama seperti dulu, pergi keluar angkasa bersama dengan
dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar